Selasa, 09 September 2008

Ririwa

Ceritera "Ririwa" Tetap Diminati Warga Jawa Barat
KOMPAS - Kamis, 18 Apr 2002
MASYARAKAT Jawa Barat (Jabar), terutama yang tinggal di pedesaan
memahami benar makna ririwa (semacam hantu). Akan tetapi, tidak
seorang pun yang tahu persis sosok ririwa yang disebut-sebut sebagai
makhluk halus itu.
Bagi masyarakat Sunda, ririwa seringkali menjadi bahan
pembicaraan yang enak didengar sebagai pelepas keseriusan sehari-
hari. Pembicaraan tentang ririwa tetap menarik minat banyak orang
walaupun gemanya sesekali membangkitkan bulu kuduk.
Maka tidak heran ketika masalah ririwa diangkat dalam seminar di
Bandung, Selasa (16/4). Penyelenggaranya, Asosiasi Relawan Indonesia
(ARI) sempat kewalahan mencari tempat duduk peserta. Lantai dua rumah
Jalan Depok VI/9 Antapani, Bandung, yang dijadikan tempat seminar
penuh sesak peserta yang datang dari berbagai kalangan sehingga
pesertanya meluber hingga luar ruangan.
Gatot Kertabudi, Sekretaris Jenderal ARI, penyelenggara seminar
semula pesimis ketika pagi hari pengunjung masih sepi. Apalagi saat
Marwan Effendi, Kepala Kejaksaan Negeri Bandung yang diserahi membuka
acara seminar datang lebih awal dari peserta. "Pak Marwan tidak perlu
khawatir, semakin siang pesertanya semakin banyak," kata Gatot
meyakinkan Marwan yang datang tepat waktu, sekitar pukul 09.00.
Mengapa harus ririwa yang diangkat menjadi topik seminar.
Bukankah itu cerita yang tak jelas ujung pangkalnya? Gatot melihat
ririwa sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Menjadi cerita
menjelang tidur.
Gara-gara cerita ririwa, masyarakat sulit berkembang, tidak
produktif. "Bagaimana bisa produktif, kalau sore-sore pintu rumah
sudah ditutup dengan alasan takut ririwa," kata Gatot saat mengawali
acara itu.
Padahal, bagi orang yang berpikir rasional waktu selepas senja
bisa dimanfaatkan untuk banyak hal yang bersifat positif. Misalnya,
ngobrol bersama tetangga, bermain di luar rumah untuk anak-anak, dan
lain-lain. Tapi, ketika pintu ditutup karena takut ririwa, kegiatan
di pedesaan menjadi beku.
Seminar ririwa di Bandung itu tampaknya menjadi "ajang" untuk
menjelek-jelekkan ririwa yang memang diyakini sebagai mahkluk jelek,
jurig, setan, atau iblis. Meskipun seminar membicarakan ririwa,
suasana tidak tampak menyeramkan.
"Makhluk halus itu bodoh. Kenapa kita takuti. Kenapa kita ikuti
untuk minta pangkat, cari nomor, dan macam-macam," kata Marwan yang
membuka seminar dengan mengucapkan, "Audzubillahiminasyaitanirrajim."
Tidak ada kemenyan yang dibakar di seputar lokasi seminar, saat acara
berlangsung. Suasananya bahkan hingar-bingar, karena acara diselingi
hiburan lagu-lagu pop dan dangdut yang dibawakan artis-artis lokal.
Dalam kesempatan itu KH Asep Zaenal Ausop, dosen agama Institut
Teknologi Bandung (ITB) yang juga Ketua Penelitian dan Pengembangan
Majelis Ulama Kota Bandung yang hadir sebagai pembicara berkali-kali
mengingatkan, agar kita tidak terlalu meremehkan ririwa, terlalu
sombong, dan juga jangan terlalu takut. "Makhluk itu memang ada,"
kata Asep yang mengaku beberapa kali diganggu ririwa.
***
SESI pertama seminar menampilkan Ilyas (64), paranormal berambut
putih dari Kampung Gunung Batu, Desa Pasir Bungur, Kecamatan Bayah,
Lebak, Banten Selatan. Tampil sebagai moderator Aat Adia, penyanyi
asal Bandung.
"Ririwa itu sepertinya ada suara tanpa rupa," kata Ilyas yang
mengaku tidak pernah melihat ririwa. Dalam praktik melayani orang-
orang yang minta tolong padanya, Ilyas tak pernah menggunakan jasa
ririwa. Ia mengaku hanya menggunakan simbol-simbol angka yang
dikaitkan dengan nama dan hari kelahiran.
Dari hasil memadukan angka-angka, nama, dan hari kelahiran itu,
Ilyas mengaku tahu nasib baik seseorang, tahu kejayaan seseorang
ketika hendak beradu nasib dalam pemilihan kepala desa. Berdasarkan
hitungan-hitungan itu, ia juga menyarankan orang-orang yang datang
padanya untuk berharap keuntungan besar dalam membuka usaha. "Tapi,
semua itu tergantung Allah," kata Ilyas yang mengaku baru pertama
kali diundang dalam seminar yang membahas ririwa.
Sementara Asep menuturkan, bahwa Allah menciptakan makhluk
bermacam-macam, seperti manusia, malaikat, jin, hewan, dan
tetumbuhan, serta batu-batu. Masing-masing dibuat dari bahan yang
berbeda-beda. "Jin atau setan, iblis dibuat dari api," kata Asep.
Menurut Asep, iblis berasal dari kata Bahasa Arab, ablasa, yang
berarti frustasi, sedang setan berasal dari kata syatona yang berarti
menggoda. Jadi iblis itu jin frustrasi yang suka menggoda orang.
"Menggoda untuk berbuat maksiat, berbuat dosa. Jadi ada setan jin
dan setan manusia, karena banyak juga manusia yang suka menggoda iman
seseorang," tutur Asep yang disambut tawa hadirin.
Asep yang mengaku beberapa kali digoda jin dalam perjalanan,
menjelaskan, jin punya karakter yang beraneka ragam sebagaimana
manusia. Menurut Asep, ada jin yang punya karakter suka menggerak-
gerakkan benda, seperti meja, kordin, dan lain-lain. Jin ini disebut
hariq.
Lalu juga ada jin yang selalu mengapit manusia, sehingga tahu
persis apa yang dilakukan manusia. "Jin yang selalu dekat dengan
manusia ini disebut jin qorin. Mereka sering menggoda manusia,"
tuturnya.
Cerita ririwa belum bisa hilang dari masyarakat. Sejak kecil,
masyarakat diperkenalkan tentang ririwa. Misalnya, ketika anak kecil
tidak mau makan atau menangis terus, ibunya atau pengasuhnya
menakutinya dengan kata-kata, "Kalau tak mau makan, nasinya dikasih
jurig. Kalau nangis terus, saya kasihkan ririwa".
Budaya menakut-nakuti anak-anak seperti itu berpengaruh terhadap
sikap mental dan perilaku anak hingga dewasa. Untuk itu, kita
dicarikan penjelasan, agar cerita ririwa tidak kontraproduktif. (M Nasir)

Tidak ada komentar: