Ceritera "Ririwa" Tetap Diminati Warga Jawa Barat
KOMPAS - Kamis, 18 Apr 2002
MASYARAKAT Jawa Barat (Jabar), terutama yang tinggal di pedesaan
memahami benar makna ririwa (semacam hantu). Akan tetapi, tidak
seorang pun yang tahu persis sosok ririwa yang disebut-sebut sebagai
makhluk halus itu.
Bagi masyarakat Sunda, ririwa seringkali menjadi bahan
pembicaraan yang enak didengar sebagai pelepas keseriusan sehari-
hari. Pembicaraan tentang ririwa tetap menarik minat banyak orang
walaupun gemanya sesekali membangkitkan bulu kuduk.
Maka tidak heran ketika masalah ririwa diangkat dalam seminar di
Bandung, Selasa (16/4). Penyelenggaranya, Asosiasi Relawan Indonesia
(ARI) sempat kewalahan mencari tempat duduk peserta. Lantai dua rumah
Jalan Depok VI/9 Antapani, Bandung, yang dijadikan tempat seminar
penuh sesak peserta yang datang dari berbagai kalangan sehingga
pesertanya meluber hingga luar ruangan.
Gatot Kertabudi, Sekretaris Jenderal ARI, penyelenggara seminar
semula pesimis ketika pagi hari pengunjung masih sepi. Apalagi saat
Marwan Effendi, Kepala Kejaksaan Negeri Bandung yang diserahi membuka
acara seminar datang lebih awal dari peserta. "Pak Marwan tidak perlu
khawatir, semakin siang pesertanya semakin banyak," kata Gatot
meyakinkan Marwan yang datang tepat waktu, sekitar pukul 09.00.
Mengapa harus ririwa yang diangkat menjadi topik seminar.
Bukankah itu cerita yang tak jelas ujung pangkalnya? Gatot melihat
ririwa sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Menjadi cerita
menjelang tidur.
Gara-gara cerita ririwa, masyarakat sulit berkembang, tidak
produktif. "Bagaimana bisa produktif, kalau sore-sore pintu rumah
sudah ditutup dengan alasan takut ririwa," kata Gatot saat mengawali
acara itu.
Padahal, bagi orang yang berpikir rasional waktu selepas senja
bisa dimanfaatkan untuk banyak hal yang bersifat positif. Misalnya,
ngobrol bersama tetangga, bermain di luar rumah untuk anak-anak, dan
lain-lain. Tapi, ketika pintu ditutup karena takut ririwa, kegiatan
di pedesaan menjadi beku.
Seminar ririwa di Bandung itu tampaknya menjadi "ajang" untuk
menjelek-jelekkan ririwa yang memang diyakini sebagai mahkluk jelek,
jurig, setan, atau iblis. Meskipun seminar membicarakan ririwa,
suasana tidak tampak menyeramkan.
"Makhluk halus itu bodoh. Kenapa kita takuti. Kenapa kita ikuti
untuk minta pangkat, cari nomor, dan macam-macam," kata Marwan yang
membuka seminar dengan mengucapkan, "Audzubillahiminasyaitanirrajim."
Tidak ada kemenyan yang dibakar di seputar lokasi seminar, saat acara
berlangsung. Suasananya bahkan hingar-bingar, karena acara diselingi
hiburan lagu-lagu pop dan dangdut yang dibawakan artis-artis lokal.
Dalam kesempatan itu KH Asep Zaenal Ausop, dosen agama Institut
Teknologi Bandung (ITB) yang juga Ketua Penelitian dan Pengembangan
Majelis Ulama Kota Bandung yang hadir sebagai pembicara berkali-kali
mengingatkan, agar kita tidak terlalu meremehkan ririwa, terlalu
sombong, dan juga jangan terlalu takut. "Makhluk itu memang ada,"
kata Asep yang mengaku beberapa kali diganggu ririwa.
***
SESI pertama seminar menampilkan Ilyas (64), paranormal berambut
putih dari Kampung Gunung Batu, Desa Pasir Bungur, Kecamatan Bayah,
Lebak, Banten Selatan. Tampil sebagai moderator Aat Adia, penyanyi
asal Bandung.
"Ririwa itu sepertinya ada suara tanpa rupa," kata Ilyas yang
mengaku tidak pernah melihat ririwa. Dalam praktik melayani orang-
orang yang minta tolong padanya, Ilyas tak pernah menggunakan jasa
ririwa. Ia mengaku hanya menggunakan simbol-simbol angka yang
dikaitkan dengan nama dan hari kelahiran.
Dari hasil memadukan angka-angka, nama, dan hari kelahiran itu,
Ilyas mengaku tahu nasib baik seseorang, tahu kejayaan seseorang
ketika hendak beradu nasib dalam pemilihan kepala desa. Berdasarkan
hitungan-hitungan itu, ia juga menyarankan orang-orang yang datang
padanya untuk berharap keuntungan besar dalam membuka usaha. "Tapi,
semua itu tergantung Allah," kata Ilyas yang mengaku baru pertama
kali diundang dalam seminar yang membahas ririwa.
Sementara Asep menuturkan, bahwa Allah menciptakan makhluk
bermacam-macam, seperti manusia, malaikat, jin, hewan, dan
tetumbuhan, serta batu-batu. Masing-masing dibuat dari bahan yang
berbeda-beda. "Jin atau setan, iblis dibuat dari api," kata Asep.
Menurut Asep, iblis berasal dari kata Bahasa Arab, ablasa, yang
berarti frustasi, sedang setan berasal dari kata syatona yang berarti
menggoda. Jadi iblis itu jin frustrasi yang suka menggoda orang.
"Menggoda untuk berbuat maksiat, berbuat dosa. Jadi ada setan jin
dan setan manusia, karena banyak juga manusia yang suka menggoda iman
seseorang," tutur Asep yang disambut tawa hadirin.
Asep yang mengaku beberapa kali digoda jin dalam perjalanan,
menjelaskan, jin punya karakter yang beraneka ragam sebagaimana
manusia. Menurut Asep, ada jin yang punya karakter suka menggerak-
gerakkan benda, seperti meja, kordin, dan lain-lain. Jin ini disebut
hariq.
Lalu juga ada jin yang selalu mengapit manusia, sehingga tahu
persis apa yang dilakukan manusia. "Jin yang selalu dekat dengan
manusia ini disebut jin qorin. Mereka sering menggoda manusia,"
tuturnya.
Cerita ririwa belum bisa hilang dari masyarakat. Sejak kecil,
masyarakat diperkenalkan tentang ririwa. Misalnya, ketika anak kecil
tidak mau makan atau menangis terus, ibunya atau pengasuhnya
menakutinya dengan kata-kata, "Kalau tak mau makan, nasinya dikasih
jurig. Kalau nangis terus, saya kasihkan ririwa".
Budaya menakut-nakuti anak-anak seperti itu berpengaruh terhadap
sikap mental dan perilaku anak hingga dewasa. Untuk itu, kita
dicarikan penjelasan, agar cerita ririwa tidak kontraproduktif. (M Nasir)
Selasa, 09 September 2008
Pariwisata Jawa Barat
KOMPAS - Sabtu, 16 Mar 2002 Halaman: 35
Pariwisata Jawa Barat
MENGANDALKAN PRODUK BUDAYA
APA yang Anda harapkan ketika berjalan-jalan di Bandung dan kota-
kota lain di Jawa Barat (Jabar)? Merasakan udara segar, menatap
pesona alam, menikmati beraneka ragam mode pakaian yang dikenakan
masyarakatnya, atau melihat gedung-gedung bersejarah yang menyimpan
beragam arsitektur?
TANPA berharap apa-apa, mata kita akan menatap semua itu,
termasuk kesemerawutan lalu lintas di Kota Bandung. Apalagi kalau
bersedia memperluas perjalanan hingga daerah-daerah, semua itu akan
ditemukan. Semakin jauh berjalan, semakin banyak yang dilihat.
Kulit kita juga akan merasakan hawa dingin-hampir 10 derajat
celsius-di malam hari, ketika kita naik ke daerah Lembang dan jalan
sekitar Gunung Tangkuban Parahu, atau ke kawasan Puncak di Cianjur.
Bandung, sebagai pintu gerbang Jabar punya daya pikat yang
lumayan tinggi. Kota satu ini memang sempat dijuluki sebagai Kota
Kembang dan "Parijs van Java". Ketika orang memasuki Bandung, akan
ingin berlama-lama menghabiskan waktu untuk menelusuri apa yang belum
pernah mereka lihat.
Namun, setelah mengenal Bandung, kemungkinan besar orang ingin
tahu daerah-daerah lain di Jabar. "Yang penting wisatawan masuk
Bandung dulu. Itu kuncinya. Setelah itu ditawarkan obyek wisata lain
di Jabar," kata Memet H Hamdan, Kepala Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Provinsi Jawa Barat.
Di Kota Bandung, orang yang tahu arsitektur akan menemukan
kekhususan-kekhususan yang tidak ditemukan di daerah-daerah lain.
Dari sisi kekayaan arsitektur, Bandung unggul. "Bandung ini ternyata
menjadi sebuah laboratorium cagar budaya dunia. Bukan hanya untuk
Indonesia, lho," katanya menegaskan.
Bandung juga merupakan surga orang-orang yang berpendidikan
arsitektur dan mereka yang peduli nilai-nilai arsitektur. Ketika
jalan-jalan di Jalan Diponegoro 59, Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan
Coblong, Bandung, kita akan melihat Gedung Dwiwarna, salah satu dari
100 bangunan bersejarah yang tercantum dalam Dokumentasi Bangunan
Kolonial Kota Bandung yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Provinsi Jawa Barat, 2001).
Gedung yang dibangun tahun 1940 di bawah pengawasan Technisishon
Dionstdor Stadsgemeente Bandung itu dulu digunakan sebagai tempat
"Indische Pensioen Fondsen (Dana Pensiun). Pada waktu Jepang berkuasa
di negeri ini, gedung itu dipakai untuk Kempei Tai.
Di masa feodal, bangunan itu sempat digunakan sebagai gedung
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Negara Pasundan. Dan, tempat itu pula
dilakukan demonstrasi pembubaran Negara Pasundan untuk kembali ke
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Gedung Dwiwarna memiliki
atap limasan serta penangkal petir pada hiasan berupa kerucut di
tengah atap bangunan.
Lalu di Jalan Asia Afrika 51, Kelurahan Braga, ada sebuah
bangunan yang sekarang digunakan Bank Mandiri (eks Bank Dagang
Negara). Bangunan ini didirikan tahun 1951. Bangunan ini dirancang
arsitek Belanda, RLA Schoemaker, dengan gaya arsitektur khas, yaitu
neoklasik (art deco ornamental) dengan bentuk yang langka dan unik.
Tentu saja masih banyak bangunan kuno lain yang bertebaran di
kota itu, seperti Gedung Apotek Kimia Farma di Jalan Asia Afrika 9
yang bergaya arsitektur electicism dengan menggunakan dekorasi
klasik, Toko Padang di persimpangan Jalan Asia Afrika dan Jalan
Homann yang bergaya klasik romantik, dan Gedung Bank Pembangunan
Daerah Jawa Barat Jalan Braga 12 yang bergaya arsitektur modernism
(streamline art deco).
"Kekayaan peninggalan sejarah harus dilindungi," kata Memet.
Karena itu, Memet dan Dibyo Hartono, Ketua Bandung Society Heritage
sempat gundah ketika ada rencana tukar guling markas Polwiltabes
Bandung dengan tanah milik PT Pasar Raya.
Untung saja Presiden Megawati Soekarnoputri menolak rencana tukar
guling itu, sehingga aset sejarah terselamatkan. Gedung yang
digunakan markas Polwiltabes sekarang termasuk benda cagar budaya.
Bekas sekolah tempat mendidik calon guru pribumi itu dibangun tahun
1866.
Bangunan peninggalan sejarah ternyata bukan hanya di Bandung,
tetapi di daerah-daerah lain di Jabar, seperti Cirebon dan Bogor
juga masih banyak. Cuma sayang, pemerintah setempat tidak melengkapi
bangunan-bangunan tua itu dengan teks yang menceritakan asal-usul
bentuk dan fungsinya, sehingga kurang menjadi sumber pengetahuan
wisatawan.
***
BANGUNAN-bangunan bersejarah itu hanya salah satu bagian dari
produk kegiatan budaya. Produk budaya lainnya sangat banyak, termasuk
hasil kreativitas manusia generasi sekarang. Misalnya, saja seni
tari, sastra, bahasa, dan aksara Sunda, serta nilai-nilai budaya
lainnya yang hidup di lingkungan masyarakat.
Belum lagi artefak-artefak bermakna yang bertebaran di Jabar.
Saking banyaknya, banyak di antaranya yang belum tergali. Di Desa
Batujaya, Karawang, misalnya, ditemukan 19 gundukan yang tertimbun
tanah. Ketika salah satu dari gundukan itu digali, ternyata berupa
candi.
Gundukan-gundukan itu ditemukan di atas tanah seluas 4 x 4
kilometer. "Kita kenal candi adalah sebuah kinerja budaya dari sebuah
komunitas. Candi yang sudah ditemukan di Karawang itu bernama Candi
Jiwa. Usianya lebih tua dari Candi Cangkuang di Garut. Padahal Candi
Cangkuang lebih tua dari Borobudur di Magelang," kata Memet.
Padahal Borobudur sudah menjadi sorotan dunia. Bagaimana dengan
penemuan candi di Karawang? Ini semua bisa disebarluaskan untuk
dikunjungi umat manusia dari segala penjuru. "Milik kita di Karawang
lebih tua, sekitar abad ke-12," tutur Memet.
Kemudian di Tambaksari, Kabupaten Ciamis, juga ditemukan fosil.
Beberapa arkeolog yang melakukan penggalian sudah menemukan geraham
manusia yang kemudian diteliti di Amerika Serikat. Bisa jadi fosil
yang sedang digali itu lebih tua dibanding fosil manusia purba di
Sangiran. Temuan-temuan itu berharga untuk keperluan sejarah, alat
menengok kembali perilaku budaya masyarakat, pendidikan, dan
pariwisata.
Dalam menghargai kebudayaan, pemerintah Jabar tidak hanya
terfokus pada produk asing, seperti arsitektur asing dan karya-karya
kuno asing lainnya yang sekarang menjadi kekayaan Jabar. Local genius
masyarakat asli Sunda juga tetap digali, yang sudah ada dipelihara,
dan yang baru dikembangkan.
Untuk mengangkat karya-karya asli masyarakat Sunda, Pemerintah
Jabar bekerja sama dengan perguruan tinggi, mengaktifkan lingkungan
seni Sunda, dan mengupayakan bagaimana bisa menghidupkan seni-seni
tradisi, baik untuk kepentingan kebudayaan maupun pariwisata.
Sebuah panggung permanen untuk pertunjukan kesenian dibangun di
samping Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar Jalan LLRE
Martadinata 209, Bandung. Panggung itu hampir tiap malam minggu
digunakan sebagai arena pertunjukan kesenian yang diselenggarakan
masyarakat.
"Pemerintah bukan segala-galanya, tapi berupaya menjadi sebaik-
baiknya fasilitator. Saya memang kepala dinas kebudayaan, tapi tak
tahu arkeologi, dan tidak bisa melukis. Komunitas budaya lah yang
mengerjakan semua itu," tuturnya.
Selain terdapat produk budaya yang bisa dilihat, juga nilai dan
tradisi serta pemikiran Sunda. Mungkin kita pernah mendengar kata
"pamali". Satu kata yang sarat dengan makna itu dilontarkan nenek-
moyang Sunda yang mendiami Jabar.
Kata "pamali" diterapkan dalam banyak konteks yang bermakna
positif. Misalnya, "Jangan menebang pohon di situ. Pamali". Ketika
ditelusuri di sekitar lokasi itu terdapat mata air yang harus
dilindungi.
KEBUDAYAAN dan pariwisata punya keterkaitan yang erat. "Pada
kenyataannya di mana pun 80 persen kunjungan wisatawan, targetnya
adalah budaya. yang lain menjadi sisanya," kata Memet. Meskipun
demikian, ia mengakui tidak semua aset budaya bisa "dijual" melalui
kendaraan pariwisata.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sudah pantaskah Jabar
disebut daerah budaya? Sebuah daerah dikatakan sebagai daerah budaya,
kata Memet, apabila masyarakat dan lingkungannya sudah mampu
memelihara aset-aset budaya itu sendiri, baik aset berupa materi
maupun nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakatnya.
"Daerah budaya dan tujuan wisata yang unggul" memang menjadi
cita-cita Jabar. Hal ini tergantung masyarakatnya sendiri, apakah
secara bersama-sama mau menciptakannya atau tidak. Jabar dikatakan
sebagai daerah wisata yang unggul bila daerah ini sudah sibuk dengan
perjalanan pelancong. Masyarakatnya saling berkunjung dari daerah
satu ke daerah lain.
Menurut catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar, wisatawan
nusantara yang masuk Jabar pada tahun 2000 mencapai 32 juta orang,
sedang wisatawan mancanegara antara 350.000 hingga 360.000 orang.
"Untuk tahun 2001, jumlah wisatawannya belum selesai dihitung. Tapi
kemungkinan tidak jauh berbeda dengan tahun 2000," kata Memet.
Memet menargetkan Jabar mampu menggaet wisatawan asing satu juta
orang, dengan lama tinggal rata-rata empat hari tiga malam, serta
pengeluaran 100 dollar AS per hari. Kalau target itu tercapai, akan
tercipta aktivitas ekonomi Rp 7 trilyun. "Saya kira 50 persen dari
kegiatan ekonomi itu merupakan usaha kecil dan menengah," tuturnya.
Ia melihat hal ini sebagai strategi jitu untuk menempatkan sektor
kebudayaan dan pariwisata dalam keikutsertaannya membangun ekonomi.
Memet tidak cemas terhadap Amerika dan Eropa yang melarang warganya
berkunjung ke Indonesia, termasuk Jabar menyusul isu sweeping orang
bule. Cina, India, dan negara-negara Asia lainnya sekarang cukup baik
untuk pasar wisata Indonesia. Ribuan wisatawan Cina sudah antre masuk
Indonesia.
Menurut Danan Axioma, Kepala Bidang Program Kerja Sama
Bilateral, Direktorat Jenderal Hubungan Internasional dan Pemasaran
Kantor Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata, Indonesia memang
sedang merintis pasar potensial di Asia yang tidak rentan terhadap
isu-isu yang berkembang di dalam negeri.
Berdasarkan skala prioritas, India, dan Cina menjadi target
pertama. Sementara AS sebagai pasar yang hilang-sejak isu sweeping
orang asing setelah peristiwa 11 September di New York dan Washington
DC-tidak digarap secara khusus.
Sebagaimana Cina, kata Danan, India merupakan pasar potensi
wisata baru bagi Indonesia yang perlu digarap. "Dengan penduduk satu
milyar, sekitar 300 juta di antaranya merupakan kelas menengah dan
kaya, dengan pendapatan perkapitanya setara dengan negara maju Barat,
perlu direbut," katanya.
Kelompok kaya ini mampu mengeluarkan uang 10.000 dollar AS dalam
perjalanan wisatanya ke luar negeri. "Mereka tergolong kelompok
wisatawan mancanegara berpenghasilan tinggi," tutur Danan.
(M NASIR)
Pariwisata Jawa Barat
MENGANDALKAN PRODUK BUDAYA
APA yang Anda harapkan ketika berjalan-jalan di Bandung dan kota-
kota lain di Jawa Barat (Jabar)? Merasakan udara segar, menatap
pesona alam, menikmati beraneka ragam mode pakaian yang dikenakan
masyarakatnya, atau melihat gedung-gedung bersejarah yang menyimpan
beragam arsitektur?
TANPA berharap apa-apa, mata kita akan menatap semua itu,
termasuk kesemerawutan lalu lintas di Kota Bandung. Apalagi kalau
bersedia memperluas perjalanan hingga daerah-daerah, semua itu akan
ditemukan. Semakin jauh berjalan, semakin banyak yang dilihat.
Kulit kita juga akan merasakan hawa dingin-hampir 10 derajat
celsius-di malam hari, ketika kita naik ke daerah Lembang dan jalan
sekitar Gunung Tangkuban Parahu, atau ke kawasan Puncak di Cianjur.
Bandung, sebagai pintu gerbang Jabar punya daya pikat yang
lumayan tinggi. Kota satu ini memang sempat dijuluki sebagai Kota
Kembang dan "Parijs van Java". Ketika orang memasuki Bandung, akan
ingin berlama-lama menghabiskan waktu untuk menelusuri apa yang belum
pernah mereka lihat.
Namun, setelah mengenal Bandung, kemungkinan besar orang ingin
tahu daerah-daerah lain di Jabar. "Yang penting wisatawan masuk
Bandung dulu. Itu kuncinya. Setelah itu ditawarkan obyek wisata lain
di Jabar," kata Memet H Hamdan, Kepala Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Provinsi Jawa Barat.
Di Kota Bandung, orang yang tahu arsitektur akan menemukan
kekhususan-kekhususan yang tidak ditemukan di daerah-daerah lain.
Dari sisi kekayaan arsitektur, Bandung unggul. "Bandung ini ternyata
menjadi sebuah laboratorium cagar budaya dunia. Bukan hanya untuk
Indonesia, lho," katanya menegaskan.
Bandung juga merupakan surga orang-orang yang berpendidikan
arsitektur dan mereka yang peduli nilai-nilai arsitektur. Ketika
jalan-jalan di Jalan Diponegoro 59, Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan
Coblong, Bandung, kita akan melihat Gedung Dwiwarna, salah satu dari
100 bangunan bersejarah yang tercantum dalam Dokumentasi Bangunan
Kolonial Kota Bandung yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Provinsi Jawa Barat, 2001).
Gedung yang dibangun tahun 1940 di bawah pengawasan Technisishon
Dionstdor Stadsgemeente Bandung itu dulu digunakan sebagai tempat
"Indische Pensioen Fondsen (Dana Pensiun). Pada waktu Jepang berkuasa
di negeri ini, gedung itu dipakai untuk Kempei Tai.
Di masa feodal, bangunan itu sempat digunakan sebagai gedung
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Negara Pasundan. Dan, tempat itu pula
dilakukan demonstrasi pembubaran Negara Pasundan untuk kembali ke
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Gedung Dwiwarna memiliki
atap limasan serta penangkal petir pada hiasan berupa kerucut di
tengah atap bangunan.
Lalu di Jalan Asia Afrika 51, Kelurahan Braga, ada sebuah
bangunan yang sekarang digunakan Bank Mandiri (eks Bank Dagang
Negara). Bangunan ini didirikan tahun 1951. Bangunan ini dirancang
arsitek Belanda, RLA Schoemaker, dengan gaya arsitektur khas, yaitu
neoklasik (art deco ornamental) dengan bentuk yang langka dan unik.
Tentu saja masih banyak bangunan kuno lain yang bertebaran di
kota itu, seperti Gedung Apotek Kimia Farma di Jalan Asia Afrika 9
yang bergaya arsitektur electicism dengan menggunakan dekorasi
klasik, Toko Padang di persimpangan Jalan Asia Afrika dan Jalan
Homann yang bergaya klasik romantik, dan Gedung Bank Pembangunan
Daerah Jawa Barat Jalan Braga 12 yang bergaya arsitektur modernism
(streamline art deco).
"Kekayaan peninggalan sejarah harus dilindungi," kata Memet.
Karena itu, Memet dan Dibyo Hartono, Ketua Bandung Society Heritage
sempat gundah ketika ada rencana tukar guling markas Polwiltabes
Bandung dengan tanah milik PT Pasar Raya.
Untung saja Presiden Megawati Soekarnoputri menolak rencana tukar
guling itu, sehingga aset sejarah terselamatkan. Gedung yang
digunakan markas Polwiltabes sekarang termasuk benda cagar budaya.
Bekas sekolah tempat mendidik calon guru pribumi itu dibangun tahun
1866.
Bangunan peninggalan sejarah ternyata bukan hanya di Bandung,
tetapi di daerah-daerah lain di Jabar, seperti Cirebon dan Bogor
juga masih banyak. Cuma sayang, pemerintah setempat tidak melengkapi
bangunan-bangunan tua itu dengan teks yang menceritakan asal-usul
bentuk dan fungsinya, sehingga kurang menjadi sumber pengetahuan
wisatawan.
***
BANGUNAN-bangunan bersejarah itu hanya salah satu bagian dari
produk kegiatan budaya. Produk budaya lainnya sangat banyak, termasuk
hasil kreativitas manusia generasi sekarang. Misalnya, saja seni
tari, sastra, bahasa, dan aksara Sunda, serta nilai-nilai budaya
lainnya yang hidup di lingkungan masyarakat.
Belum lagi artefak-artefak bermakna yang bertebaran di Jabar.
Saking banyaknya, banyak di antaranya yang belum tergali. Di Desa
Batujaya, Karawang, misalnya, ditemukan 19 gundukan yang tertimbun
tanah. Ketika salah satu dari gundukan itu digali, ternyata berupa
candi.
Gundukan-gundukan itu ditemukan di atas tanah seluas 4 x 4
kilometer. "Kita kenal candi adalah sebuah kinerja budaya dari sebuah
komunitas. Candi yang sudah ditemukan di Karawang itu bernama Candi
Jiwa. Usianya lebih tua dari Candi Cangkuang di Garut. Padahal Candi
Cangkuang lebih tua dari Borobudur di Magelang," kata Memet.
Padahal Borobudur sudah menjadi sorotan dunia. Bagaimana dengan
penemuan candi di Karawang? Ini semua bisa disebarluaskan untuk
dikunjungi umat manusia dari segala penjuru. "Milik kita di Karawang
lebih tua, sekitar abad ke-12," tutur Memet.
Kemudian di Tambaksari, Kabupaten Ciamis, juga ditemukan fosil.
Beberapa arkeolog yang melakukan penggalian sudah menemukan geraham
manusia yang kemudian diteliti di Amerika Serikat. Bisa jadi fosil
yang sedang digali itu lebih tua dibanding fosil manusia purba di
Sangiran. Temuan-temuan itu berharga untuk keperluan sejarah, alat
menengok kembali perilaku budaya masyarakat, pendidikan, dan
pariwisata.
Dalam menghargai kebudayaan, pemerintah Jabar tidak hanya
terfokus pada produk asing, seperti arsitektur asing dan karya-karya
kuno asing lainnya yang sekarang menjadi kekayaan Jabar. Local genius
masyarakat asli Sunda juga tetap digali, yang sudah ada dipelihara,
dan yang baru dikembangkan.
Untuk mengangkat karya-karya asli masyarakat Sunda, Pemerintah
Jabar bekerja sama dengan perguruan tinggi, mengaktifkan lingkungan
seni Sunda, dan mengupayakan bagaimana bisa menghidupkan seni-seni
tradisi, baik untuk kepentingan kebudayaan maupun pariwisata.
Sebuah panggung permanen untuk pertunjukan kesenian dibangun di
samping Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar Jalan LLRE
Martadinata 209, Bandung. Panggung itu hampir tiap malam minggu
digunakan sebagai arena pertunjukan kesenian yang diselenggarakan
masyarakat.
"Pemerintah bukan segala-galanya, tapi berupaya menjadi sebaik-
baiknya fasilitator. Saya memang kepala dinas kebudayaan, tapi tak
tahu arkeologi, dan tidak bisa melukis. Komunitas budaya lah yang
mengerjakan semua itu," tuturnya.
Selain terdapat produk budaya yang bisa dilihat, juga nilai dan
tradisi serta pemikiran Sunda. Mungkin kita pernah mendengar kata
"pamali". Satu kata yang sarat dengan makna itu dilontarkan nenek-
moyang Sunda yang mendiami Jabar.
Kata "pamali" diterapkan dalam banyak konteks yang bermakna
positif. Misalnya, "Jangan menebang pohon di situ. Pamali". Ketika
ditelusuri di sekitar lokasi itu terdapat mata air yang harus
dilindungi.
KEBUDAYAAN dan pariwisata punya keterkaitan yang erat. "Pada
kenyataannya di mana pun 80 persen kunjungan wisatawan, targetnya
adalah budaya. yang lain menjadi sisanya," kata Memet. Meskipun
demikian, ia mengakui tidak semua aset budaya bisa "dijual" melalui
kendaraan pariwisata.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sudah pantaskah Jabar
disebut daerah budaya? Sebuah daerah dikatakan sebagai daerah budaya,
kata Memet, apabila masyarakat dan lingkungannya sudah mampu
memelihara aset-aset budaya itu sendiri, baik aset berupa materi
maupun nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakatnya.
"Daerah budaya dan tujuan wisata yang unggul" memang menjadi
cita-cita Jabar. Hal ini tergantung masyarakatnya sendiri, apakah
secara bersama-sama mau menciptakannya atau tidak. Jabar dikatakan
sebagai daerah wisata yang unggul bila daerah ini sudah sibuk dengan
perjalanan pelancong. Masyarakatnya saling berkunjung dari daerah
satu ke daerah lain.
Menurut catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar, wisatawan
nusantara yang masuk Jabar pada tahun 2000 mencapai 32 juta orang,
sedang wisatawan mancanegara antara 350.000 hingga 360.000 orang.
"Untuk tahun 2001, jumlah wisatawannya belum selesai dihitung. Tapi
kemungkinan tidak jauh berbeda dengan tahun 2000," kata Memet.
Memet menargetkan Jabar mampu menggaet wisatawan asing satu juta
orang, dengan lama tinggal rata-rata empat hari tiga malam, serta
pengeluaran 100 dollar AS per hari. Kalau target itu tercapai, akan
tercipta aktivitas ekonomi Rp 7 trilyun. "Saya kira 50 persen dari
kegiatan ekonomi itu merupakan usaha kecil dan menengah," tuturnya.
Ia melihat hal ini sebagai strategi jitu untuk menempatkan sektor
kebudayaan dan pariwisata dalam keikutsertaannya membangun ekonomi.
Memet tidak cemas terhadap Amerika dan Eropa yang melarang warganya
berkunjung ke Indonesia, termasuk Jabar menyusul isu sweeping orang
bule. Cina, India, dan negara-negara Asia lainnya sekarang cukup baik
untuk pasar wisata Indonesia. Ribuan wisatawan Cina sudah antre masuk
Indonesia.
Menurut Danan Axioma, Kepala Bidang Program Kerja Sama
Bilateral, Direktorat Jenderal Hubungan Internasional dan Pemasaran
Kantor Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata, Indonesia memang
sedang merintis pasar potensial di Asia yang tidak rentan terhadap
isu-isu yang berkembang di dalam negeri.
Berdasarkan skala prioritas, India, dan Cina menjadi target
pertama. Sementara AS sebagai pasar yang hilang-sejak isu sweeping
orang asing setelah peristiwa 11 September di New York dan Washington
DC-tidak digarap secara khusus.
Sebagaimana Cina, kata Danan, India merupakan pasar potensi
wisata baru bagi Indonesia yang perlu digarap. "Dengan penduduk satu
milyar, sekitar 300 juta di antaranya merupakan kelas menengah dan
kaya, dengan pendapatan perkapitanya setara dengan negara maju Barat,
perlu direbut," katanya.
Kelompok kaya ini mampu mengeluarkan uang 10.000 dollar AS dalam
perjalanan wisatanya ke luar negeri. "Mereka tergolong kelompok
wisatawan mancanegara berpenghasilan tinggi," tutur Danan.
(M NASIR)
Perawatan Barang Elektronik
Resep Menyelamatkan Barang Elektronik dari Air
KOMPAS - Senin, 04 Feb 2002 Halaman: 19 Penulis: nas
RESEP MENYELAMATKAN BARANG ELEKTRONIK DARI AIR
Bandung, Kompas
Berbagai jenis barang elektronik perlu diselamatkan dari
kehancuran akibat banjir. Tindakan pertama penyelamatan barang
elektronik yang telanjur terendam air adalah membiarkannya sampai
kering sendiri atau dikeringkan dengan sinar Matahari.
"Jangan sekali-kali menghubungkan barang elektronik basah dengan
listrik. Itu artinya sama dengan menghancurkan, karena pasti terjadi
hubungan pendek," kata Dr Ir DA Sutisna, dosen teknik Industri
Universitas Kristen Maranatha Bandung kepada Kompas, Minggu (3/2).
Menurut Sutisna, masyarakat khususnya korban banjir, perlu
diajarkan hal itu, agar barang-barang elektronik mereka
terselamatkan. Membantu korban banjir tidak hanya dengan memberi
makan dan membantu evakuasi, tapi bisa juga dengan memberi
pengetahuan praktis yang bisa digunakan langsung oleh korban.
Setelah barang elektronik kering secara alami, kata dia,
sebaiknya dibawa ke tempat reparasi untuk dilihat apakah masih ada
hubungan pendek bila dihubungkan ke listrik. Kalau kemungkinan masih
ada, barang itu bisa diperbaiki dan baru digunakan.
"Ini cara terbaik untuk menyelamatkan barang elektronik yang kena
air. Dengan cara ini, jutaan unit barang elektronik yang mungkin
turut terendam banjir bisa diselamatkan. Barang elektronik sebenarnya
tidak rusak hancur jika terendam air. Yang merusak itu, bila dalam
keadaan basah, elektronik dihubungkan ke listrik dan terjadi hubungan
pendek," papar Sutisna yang pernah menyertai suatu tim yang menangani
banjir di Ciamis Selatan.
Sementara itu, petani di beberapa daerah di Jawa Barat, dalam
beberapa hari terakhir ini juga kebingungan karena gabah mereka tidak
kunjung kering. "Kasihan petani. Tiap hari mendung. Sebentar-sebentar
hujan. Gabahnya tidak kering-kering. Kalau digiling pasti hancur,"
kata R Adang Herry Pratidi, pengusaha beras yang dihubungi Kompas di
Cianjur.
Sani, petani asal Subang, mengeluhkan hal yang sama. Padinya yang
baru dipanen tidak bisa digiling karena basah. "Kalau basah begini
terus, bisa busuk. Sementara petani di sini tidak punya alat
pengering, kecuali dengan panas Matahari," katanya. (nas)
Langganan:
Postingan (Atom)