Selasa, 09 September 2008

Perawatan Barang Elektronik


Resep Menyelamatkan Barang Elektronik dari Air
KOMPAS - Senin, 04 Feb 2002 Halaman: 19 Penulis: nas
RESEP MENYELAMATKAN BARANG ELEKTRONIK DARI AIR
Bandung, Kompas
Berbagai jenis barang elektronik perlu diselamatkan dari
kehancuran akibat banjir. Tindakan pertama penyelamatan barang
elektronik yang telanjur terendam air adalah membiarkannya sampai
kering sendiri atau dikeringkan dengan sinar Matahari.
"Jangan sekali-kali menghubungkan barang elektronik basah dengan
listrik. Itu artinya sama dengan menghancurkan, karena pasti terjadi
hubungan pendek," kata Dr Ir DA Sutisna, dosen teknik Industri
Universitas Kristen Maranatha Bandung kepada Kompas, Minggu (3/2).
Menurut Sutisna, masyarakat khususnya korban banjir, perlu
diajarkan hal itu, agar barang-barang elektronik mereka
terselamatkan. Membantu korban banjir tidak hanya dengan memberi
makan dan membantu evakuasi, tapi bisa juga dengan memberi
pengetahuan praktis yang bisa digunakan langsung oleh korban.
Setelah barang elektronik kering secara alami, kata dia,
sebaiknya dibawa ke tempat reparasi untuk dilihat apakah masih ada
hubungan pendek bila dihubungkan ke listrik. Kalau kemungkinan masih
ada, barang itu bisa diperbaiki dan baru digunakan.
"Ini cara terbaik untuk menyelamatkan barang elektronik yang kena
air. Dengan cara ini, jutaan unit barang elektronik yang mungkin
turut terendam banjir bisa diselamatkan. Barang elektronik sebenarnya
tidak rusak hancur jika terendam air. Yang merusak itu, bila dalam
keadaan basah, elektronik dihubungkan ke listrik dan terjadi hubungan
pendek," papar Sutisna yang pernah menyertai suatu tim yang menangani
banjir di Ciamis Selatan.
Sementara itu, petani di beberapa daerah di Jawa Barat, dalam
beberapa hari terakhir ini juga kebingungan karena gabah mereka tidak
kunjung kering. "Kasihan petani. Tiap hari mendung. Sebentar-sebentar
hujan. Gabahnya tidak kering-kering. Kalau digiling pasti hancur,"
kata R Adang Herry Pratidi, pengusaha beras yang dihubungi Kompas di
Cianjur.
Sani, petani asal Subang, mengeluhkan hal yang sama. Padinya yang
baru dipanen tidak bisa digiling karena basah. "Kalau basah begini
terus, bisa busuk. Sementara petani di sini tidak punya alat
pengering, kecuali dengan panas Matahari," katanya. (nas)

Tidak ada komentar: