Selasa, 09 September 2008

Pariwisata Jawa Barat

KOMPAS - Sabtu, 16 Mar 2002 Halaman: 35
Pariwisata Jawa Barat
MENGANDALKAN PRODUK BUDAYA

APA yang Anda harapkan ketika berjalan-jalan di Bandung dan kota-
kota lain di Jawa Barat (Jabar)? Merasakan udara segar, menatap
pesona alam, menikmati beraneka ragam mode pakaian yang dikenakan
masyarakatnya, atau melihat gedung-gedung bersejarah yang menyimpan
beragam arsitektur?

TANPA berharap apa-apa, mata kita akan menatap semua itu,
termasuk kesemerawutan lalu lintas di Kota Bandung. Apalagi kalau
bersedia memperluas perjalanan hingga daerah-daerah, semua itu akan
ditemukan. Semakin jauh berjalan, semakin banyak yang dilihat.
Kulit kita juga akan merasakan hawa dingin-hampir 10 derajat
celsius-di malam hari, ketika kita naik ke daerah Lembang dan jalan
sekitar Gunung Tangkuban Parahu, atau ke kawasan Puncak di Cianjur.
Bandung, sebagai pintu gerbang Jabar punya daya pikat yang
lumayan tinggi. Kota satu ini memang sempat dijuluki sebagai Kota
Kembang dan "Parijs van Java". Ketika orang memasuki Bandung, akan
ingin berlama-lama menghabiskan waktu untuk menelusuri apa yang belum
pernah mereka lihat.
Namun, setelah mengenal Bandung, kemungkinan besar orang ingin
tahu daerah-daerah lain di Jabar. "Yang penting wisatawan masuk
Bandung dulu. Itu kuncinya. Setelah itu ditawarkan obyek wisata lain
di Jabar," kata Memet H Hamdan, Kepala Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Provinsi Jawa Barat.
Di Kota Bandung, orang yang tahu arsitektur akan menemukan
kekhususan-kekhususan yang tidak ditemukan di daerah-daerah lain.
Dari sisi kekayaan arsitektur, Bandung unggul. "Bandung ini ternyata
menjadi sebuah laboratorium cagar budaya dunia. Bukan hanya untuk
Indonesia, lho," katanya menegaskan.
Bandung juga merupakan surga orang-orang yang berpendidikan
arsitektur dan mereka yang peduli nilai-nilai arsitektur. Ketika
jalan-jalan di Jalan Diponegoro 59, Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan
Coblong, Bandung, kita akan melihat Gedung Dwiwarna, salah satu dari
100 bangunan bersejarah yang tercantum dalam Dokumentasi Bangunan
Kolonial Kota Bandung yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Provinsi Jawa Barat, 2001).
Gedung yang dibangun tahun 1940 di bawah pengawasan Technisishon
Dionstdor Stadsgemeente Bandung itu dulu digunakan sebagai tempat
"Indische Pensioen Fondsen (Dana Pensiun). Pada waktu Jepang berkuasa
di negeri ini, gedung itu dipakai untuk Kempei Tai.
Di masa feodal, bangunan itu sempat digunakan sebagai gedung
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Negara Pasundan. Dan, tempat itu pula
dilakukan demonstrasi pembubaran Negara Pasundan untuk kembali ke
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Gedung Dwiwarna memiliki
atap limasan serta penangkal petir pada hiasan berupa kerucut di
tengah atap bangunan.
Lalu di Jalan Asia Afrika 51, Kelurahan Braga, ada sebuah
bangunan yang sekarang digunakan Bank Mandiri (eks Bank Dagang
Negara). Bangunan ini didirikan tahun 1951. Bangunan ini dirancang
arsitek Belanda, RLA Schoemaker, dengan gaya arsitektur khas, yaitu
neoklasik (art deco ornamental) dengan bentuk yang langka dan unik.
Tentu saja masih banyak bangunan kuno lain yang bertebaran di
kota itu, seperti Gedung Apotek Kimia Farma di Jalan Asia Afrika 9
yang bergaya arsitektur electicism dengan menggunakan dekorasi
klasik, Toko Padang di persimpangan Jalan Asia Afrika dan Jalan
Homann yang bergaya klasik romantik, dan Gedung Bank Pembangunan
Daerah Jawa Barat Jalan Braga 12 yang bergaya arsitektur modernism
(streamline art deco).
"Kekayaan peninggalan sejarah harus dilindungi," kata Memet.
Karena itu, Memet dan Dibyo Hartono, Ketua Bandung Society Heritage
sempat gundah ketika ada rencana tukar guling markas Polwiltabes
Bandung dengan tanah milik PT Pasar Raya.
Untung saja Presiden Megawati Soekarnoputri menolak rencana tukar
guling itu, sehingga aset sejarah terselamatkan. Gedung yang
digunakan markas Polwiltabes sekarang termasuk benda cagar budaya.
Bekas sekolah tempat mendidik calon guru pribumi itu dibangun tahun
1866.
Bangunan peninggalan sejarah ternyata bukan hanya di Bandung,
tetapi di daerah-daerah lain di Jabar, seperti Cirebon dan Bogor
juga masih banyak. Cuma sayang, pemerintah setempat tidak melengkapi
bangunan-bangunan tua itu dengan teks yang menceritakan asal-usul
bentuk dan fungsinya, sehingga kurang menjadi sumber pengetahuan
wisatawan.
***
BANGUNAN-bangunan bersejarah itu hanya salah satu bagian dari
produk kegiatan budaya. Produk budaya lainnya sangat banyak, termasuk
hasil kreativitas manusia generasi sekarang. Misalnya, saja seni
tari, sastra, bahasa, dan aksara Sunda, serta nilai-nilai budaya
lainnya yang hidup di lingkungan masyarakat.
Belum lagi artefak-artefak bermakna yang bertebaran di Jabar.
Saking banyaknya, banyak di antaranya yang belum tergali. Di Desa
Batujaya, Karawang, misalnya, ditemukan 19 gundukan yang tertimbun
tanah. Ketika salah satu dari gundukan itu digali, ternyata berupa
candi.
Gundukan-gundukan itu ditemukan di atas tanah seluas 4 x 4
kilometer. "Kita kenal candi adalah sebuah kinerja budaya dari sebuah
komunitas. Candi yang sudah ditemukan di Karawang itu bernama Candi
Jiwa. Usianya lebih tua dari Candi Cangkuang di Garut. Padahal Candi
Cangkuang lebih tua dari Borobudur di Magelang," kata Memet.
Padahal Borobudur sudah menjadi sorotan dunia. Bagaimana dengan
penemuan candi di Karawang? Ini semua bisa disebarluaskan untuk
dikunjungi umat manusia dari segala penjuru. "Milik kita di Karawang
lebih tua, sekitar abad ke-12," tutur Memet.
Kemudian di Tambaksari, Kabupaten Ciamis, juga ditemukan fosil.
Beberapa arkeolog yang melakukan penggalian sudah menemukan geraham
manusia yang kemudian diteliti di Amerika Serikat. Bisa jadi fosil
yang sedang digali itu lebih tua dibanding fosil manusia purba di
Sangiran. Temuan-temuan itu berharga untuk keperluan sejarah, alat
menengok kembali perilaku budaya masyarakat, pendidikan, dan
pariwisata.
Dalam menghargai kebudayaan, pemerintah Jabar tidak hanya
terfokus pada produk asing, seperti arsitektur asing dan karya-karya
kuno asing lainnya yang sekarang menjadi kekayaan Jabar. Local genius
masyarakat asli Sunda juga tetap digali, yang sudah ada dipelihara,
dan yang baru dikembangkan.
Untuk mengangkat karya-karya asli masyarakat Sunda, Pemerintah
Jabar bekerja sama dengan perguruan tinggi, mengaktifkan lingkungan
seni Sunda, dan mengupayakan bagaimana bisa menghidupkan seni-seni
tradisi, baik untuk kepentingan kebudayaan maupun pariwisata.
Sebuah panggung permanen untuk pertunjukan kesenian dibangun di
samping Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar Jalan LLRE
Martadinata 209, Bandung. Panggung itu hampir tiap malam minggu
digunakan sebagai arena pertunjukan kesenian yang diselenggarakan
masyarakat.
"Pemerintah bukan segala-galanya, tapi berupaya menjadi sebaik-
baiknya fasilitator. Saya memang kepala dinas kebudayaan, tapi tak
tahu arkeologi, dan tidak bisa melukis. Komunitas budaya lah yang
mengerjakan semua itu," tuturnya.
Selain terdapat produk budaya yang bisa dilihat, juga nilai dan
tradisi serta pemikiran Sunda. Mungkin kita pernah mendengar kata
"pamali". Satu kata yang sarat dengan makna itu dilontarkan nenek-
moyang Sunda yang mendiami Jabar.
Kata "pamali" diterapkan dalam banyak konteks yang bermakna
positif. Misalnya, "Jangan menebang pohon di situ. Pamali". Ketika
ditelusuri di sekitar lokasi itu terdapat mata air yang harus
dilindungi.


KEBUDAYAAN dan pariwisata punya keterkaitan yang erat. "Pada
kenyataannya di mana pun 80 persen kunjungan wisatawan, targetnya
adalah budaya. yang lain menjadi sisanya," kata Memet. Meskipun
demikian, ia mengakui tidak semua aset budaya bisa "dijual" melalui
kendaraan pariwisata.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sudah pantaskah Jabar
disebut daerah budaya? Sebuah daerah dikatakan sebagai daerah budaya,
kata Memet, apabila masyarakat dan lingkungannya sudah mampu
memelihara aset-aset budaya itu sendiri, baik aset berupa materi
maupun nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakatnya.
"Daerah budaya dan tujuan wisata yang unggul" memang menjadi
cita-cita Jabar. Hal ini tergantung masyarakatnya sendiri, apakah
secara bersama-sama mau menciptakannya atau tidak. Jabar dikatakan
sebagai daerah wisata yang unggul bila daerah ini sudah sibuk dengan
perjalanan pelancong. Masyarakatnya saling berkunjung dari daerah
satu ke daerah lain.
Menurut catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar, wisatawan
nusantara yang masuk Jabar pada tahun 2000 mencapai 32 juta orang,
sedang wisatawan mancanegara antara 350.000 hingga 360.000 orang.
"Untuk tahun 2001, jumlah wisatawannya belum selesai dihitung. Tapi
kemungkinan tidak jauh berbeda dengan tahun 2000," kata Memet.
Memet menargetkan Jabar mampu menggaet wisatawan asing satu juta
orang, dengan lama tinggal rata-rata empat hari tiga malam, serta
pengeluaran 100 dollar AS per hari. Kalau target itu tercapai, akan
tercipta aktivitas ekonomi Rp 7 trilyun. "Saya kira 50 persen dari
kegiatan ekonomi itu merupakan usaha kecil dan menengah," tuturnya.
Ia melihat hal ini sebagai strategi jitu untuk menempatkan sektor
kebudayaan dan pariwisata dalam keikutsertaannya membangun ekonomi.
Memet tidak cemas terhadap Amerika dan Eropa yang melarang warganya
berkunjung ke Indonesia, termasuk Jabar menyusul isu sweeping orang
bule. Cina, India, dan negara-negara Asia lainnya sekarang cukup baik
untuk pasar wisata Indonesia. Ribuan wisatawan Cina sudah antre masuk
Indonesia.
Menurut Danan Axioma, Kepala Bidang Program Kerja Sama
Bilateral, Direktorat Jenderal Hubungan Internasional dan Pemasaran
Kantor Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata, Indonesia memang
sedang merintis pasar potensial di Asia yang tidak rentan terhadap
isu-isu yang berkembang di dalam negeri.
Berdasarkan skala prioritas, India, dan Cina menjadi target
pertama. Sementara AS sebagai pasar yang hilang-sejak isu sweeping
orang asing setelah peristiwa 11 September di New York dan Washington
DC-tidak digarap secara khusus.
Sebagaimana Cina, kata Danan, India merupakan pasar potensi
wisata baru bagi Indonesia yang perlu digarap. "Dengan penduduk satu
milyar, sekitar 300 juta di antaranya merupakan kelas menengah dan
kaya, dengan pendapatan perkapitanya setara dengan negara maju Barat,
perlu direbut," katanya.
Kelompok kaya ini mampu mengeluarkan uang 10.000 dollar AS dalam
perjalanan wisatanya ke luar negeri. "Mereka tergolong kelompok
wisatawan mancanegara berpenghasilan tinggi," tutur Danan.
(M NASIR)

Tidak ada komentar: